Kilas Balik

Perjalanan sejarah Teknnik Sipil Undip dan terbentuknya

 

 

Ikatan Alumni Teknik Sipil Undip (Ikateksi)

Kilas Balik

Perjalanan sejarah Teknnik Sipil Undip dan terbentuknya

Ikatan Alumni Teknik Sipil Undip (Ikateksi)

 

Pada tahun 1966, Bagian(sekarang dikenal dengan sebutan ‘jurusan’) Teknik Sipil Fak.Teknik Undip tidak menerima majasiswa,sebagai akibat dari suasana politik yang mencekam setelah pecah peristiwa G30S/PKI di tahun 1965. Namun kondisi ini tidak menyurutkan nyali dan idealisme mahasiswa untuk berorganisasi kembali wadah Keluarga Mahasiswa Sipil (KMS). yang diketuai Abimanyu (Ang.1967)?? sebagai salah satu ujung tombak perjuangan dewan mahasiswa UNDIP untuk menyuarakan amanat penderitaan rakyat. Isu-isu saat itu yang signifikan adalah pemberantasan komunis dan kemiskinan hingga masa 5 tahun pertama orde baru.

Pada 5 tahun kedua orde baru berkuasa, mahasiswa disibukan dengan penolakan produk jepang yang mencuat nama Hariman siregar sebagai sosok, seperti halnnya Soe hok Gie, yang kecewa menyaksikan rekan-rekan sesama pendemo melebur dalam kekuasaan dan melacurkan diri untuk meneduhkan legitimasi rezim orde baru. disaat itu , KMS dipimpin oleh sri sudarsono (angk.1971) dan dimasa masa kepemimpinannya diluncurkan logo Kms seperti yang kita kenal hingga kini.

 

Tahun 1977-1978 akhir dari masa dewan mahasiswa(Dema) aktivis organisasi kemahasiswaan mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional yang mengakibatkan kampus-kampus perguruan tinggi di serbu dan diduduki oleh militer. Kemudian selain dema dihapus, kebijakan NKK/BKK (Normalisasi kehidupan Kampus /Badan koordinasi kampus) diterapkan di seluruh indonesia. Perploncoan di masa dema pun berakhir dan digantikan dengan program penerimaan mahasiswa baru dengan  penataran P4 yang diterapkan mulai mahasiswa 1978. dimasa inilah terjadi perlihan ketua KMS masa dema yang dijabat oleh bamban  setiawan (angk.1973) kepada Kuntriadi(Angk.1976) yang kepemimpinannya hingga 1981.

Nama KMS FT Undip berlangsung hingga tahun 1990 dan selanjutnya berubah menjadi himpunan mahasiswa sipil (HMS) FT Undip, dengan ketua umum dan masa kepemimpinan secara berurutan sebagai berikut : 

 

 

  • Tatapradana(Roy) / Angk.1977     (1981-1982)
  • Ferdinand singgih / Angk.1977     (1982-1983)
  • Budi Prasetyo / Angk.1979           (1983-1984)
  • Y.Joko Setianto / Angk.1981         (1984-1985)
  • Sri wiyasa / Angk.1982                 (1985-1986)
  • Pungki B.Supangkat / Angk.1984 (1986-1987)
  • Hafjar Setiadji / Angk.1985           (1987-1988)
  • M.Agung Wibowo / Angk.1986      (1988-1989)
  • Cipto Raharjo / Angk.1987            (1989-1990)
  • Cahyo / Angk.1988                        (1990-1991)
  • Tri Broto / Angk.1989                    (1991-1992)
  • M.Iqbal / Angk.1990                      (1992-1993)
  • Adi Purwanto / Angk.1991            (1993-1994) 

 

  • Dani Yudha / Angk.1992               (1994-1995)
  • Irwan Apriyanto / Angk.1993         (1995-1996)
  • R.Tedjo widiatmo / Angk.1994       (1996-1997)
  • Idi Namara / Angk.1995                 (1997-1998)
  • Amrin Farikhi / Angk.1996             (1998-1999)
  • Arif wildani / Angk.1997                 (1999-2000)
  • Angga Yoantoro / Angk.1998         (2000-2001)
  • Donny Kurniawan / Angk.1999      (2001-2002)
  • Agung Andika / Angk.2001            (2002-2004)
  • Anwar Ismail / Angk.2002              (2004-2005)
  • Andika Purnomo Putra / Angk.2003 (2005-2006)
  • Andesit krisna / Angk.2004           (2006-2007)
  • Oki herfanto / Angk.2005              (2007-2008) 

 

Dengan pemberlakuan NKK/BKK mengakibatkan organisasi kemahasiswaan dalam posisi mandul. Meskipun demikian bukan berarti gelombang penolakan terhadap kebijakan tersebut mati sama sekali, karena di sela-sela kegiatan akademik masih juga mengadakan kegiatan mimbar bebas dengan berbagai alasan yang bisa diijinkan pihak penguasa kampus. memang aktivis kampus dimasa ini kemudian lebih banyak bergabung ke dalam organisasi kemahasiswaan ekstra kampus, membentuk kelompok-kelompok diskusi, maupun mengaftikan pers mahasiswa

Tahun 1998 merupakan klimaks dari gerakan gerakan mahasiswa 1990-an dan masa sebelumnya dengan lengsernya penguasa order baru yang didahului dengan krisis moneter sejak paruh waktu 1997.

Dekade 2000-an melahirkan reformasi yang diharapkan mampu lebih menyejahterakan masyarakat. Namun, apa yang dirasakan hingga saat ini? mahasiswa terus  bergerak melakukan perjuangan demi perubahan yang lebih baik dan masih terus mengemban ammanat penderitaan rakyat meskipun belum masiv gerakannya dan isu-isu yang diusungnya. pada masa ini HMS banyak melakukan konsolidasi internal dengan kegiatan-kegiatan akademiknya dan sesekali menjalankan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk dapat melihat dan menyerap aspirasi yang berkembang di masyarakat sekitar. hal ini tidak bisa dipungkiri karena ada kemungkinan ‘rasa jenuh’ atau ‘rasa kecewa’ dengan kondisi bermasyarakat dan bernegara yang diliputi dengan berbagai permasalahan seperti korupsi terus berlanjut, pilkada bermasalah, krisis kepercayaan kepada pembuat maupun pelaksana kebijakan, isu golput, melambungnya harga sembako, dan masih banyak lagi.

HMS di masa kini dan mendatang diharapkan menjadi agen perubahan yang dinamis ke kondisi yang lebih baik dengan tetap berpegang teguh pada keunggulan dan kearifan lokal serta kejujuran.

Jayalah sipilku jayalah bangsa dan negara kesatuan republik indonesia .